Featured Post

Donasi untuk Penulis

TRIPLE X BAND [XXX BAND]



TRIPLE X BAND

XXX BALI adalah sebuah grup band Bali berbasis di Denpasar yang dalam satu dekade terakhir sangat kental mewarnai percaturan musik modern Bali. Musik dan lagu bernuansa Pop, Rock, Metal dan Reggae dipadu dengan alat-alat musik tradisional Bali termasuk olah vocal trademark Bali “Cak” yang mendunia. Lirik lagu dominan Bahasa Bali, namun ada juga lagu dalam Bahasa Indonesia dan bahkan dalam album terkini “Welcome to Bali” dalam Bahasa Inggris. Di kalangan penggemarnya, yang nota bene kaula muda, salam XXX, Tangan Disilang, adalah simbol persahabatan dan Perdamaian, Dumogi Sami Bagia (Semoga Semua Makhluk Berbahagia).
Nama XXX dipilih begitu saja, terinspirasi oleh istilah Mr. X, orang tanpa identitas atau tak dikenal, untuk menandai sebuah grup dan kebebasan berkarya. Ditetapkan berdiri tanggal 10 Oktober 2003 di Denpasar-Bali bertepatan dengan Launching album perdana XXX “Druwenang Sareng.” Awalnya adalah iseng-iseng membuat sebuah lagu dan video clip “Sami Bagia” yang ditayangkan oleh Bali TV merespon situasi saat Bali dikejutkan oleh peristiwa Bom Bali, 12 Oktober 2002, mengajak dan menggugah orang-orang untuk berkumpul dan bergembira.

Personel XXX adalah tiga pria bersaudara kandung:

1.     I Gusti Ngurah Marianta “Rahtut” (Vocal)
2.     I Gusti Ngurah Adiartha “Rahmink” (Gitar)
3.     I Gusti Ngurah Budiartha “Rahtwo” (Vocal).

Mereka menetap di Denpasar, namun keluarga besar berbasis di Banjar Angkan, Kelungkung. Sejalan perkembangan, saat-saat manggung mereka juga dibantu oleh pemain tambahan. Saat ini pementasan didukung oleh Rah Alit (Drum); Rah Angga (Bass); dan Sila (Gitar/Keyboard). Dalam karya-karya dan video klip, mereka kerap berkolaborasi dengan musisi tradisional Bali.
Sejak berdiri di tahun 2003, XXX sudah menelorkan enam album. Diantaranya:
Druwenang Sareng” (2003) Album perdana,
Jingkrak-Jingkrak” (2004)
Bikul Pisuh” (2006)
Sangut Delem” (2008)
Nak Bali” (2010)
Welcome to Bali” (2014).
Lagu-lagu Bali XXX telah menjadi tuan di rumah sendiri, merasuk ke sanubari orang-orang Bali, terlihat dari konser-konser mereka yang semarak merasuki penonton.
Rahtut (I Gusti Ngurah Marianta), motor dari Grup Band bersaudara ini, sebenarnya adalah seorang seniman Seni Rupa. Namun ia juga mempunyai rasa dan apresiasi terhadap musik yang tinggi. Melihat adik-adiknya yang bertalenta musik hanya manggung di sebatas bar dan café-café, terpanggil hatinya untuk mengajak mereka berkiprah lebih serius menghasilkan karya-karya sendiri. Karya yang setidaknya bisa diwariskan ke anak-cucu. Dibantu software yang tersedia, Rah Tut mulai menciptakan aransemen musik dan lirik-lirik lagu pop modern dalam Bahasa Bali, yang selanjutnya mengerucut pada lagu-lagu bertema budaya Bali, peristiwa dan tokoh sejarah (seperti lagu Puputan Badung, Kebo Iwa), karakter-karakter cerita rakyat Bali (Cupak-Gerantang, Lutung Megambel, Sangut-Delem), dan juga situasi-situasi kekinian Bali akibat pengaruh pariwisata dan globalisasi. Lagu-lagu dimaksudkan tidak sekedar untuk menghibur tetapi juga sebagai sarana pendidikan, penyebaran informasi, dan pengenalan aspek-aspek tradisi Bali. Memang, sepintas dari jenis atau genre musik berbau Rock-Metal yang disuguhkan, penggemar utama adalah kaula muda. Namun, menurut Rah Tut, musik dan lagu-lagu XXX disuguhakn untuk semua kalangan yang mau mengapresiasinya.

Adalah sebuah kenyataan bahwa banyak Grup Band yang tidak bertahan lama alias bubar. Ketika ditanya di mana kelebihan XXX sehingga bisa eksis lebih dari satu dekade, Rahtut dengan senyum menjawab bahwa karena mereka bersaudara kandung. Bahkan yang bertindak sebagai manajer juga saudara kandung, I Gusti Ngurah Murthana “Rahman.” Tentu mereka juga menghadapi permasalahan yang sama layaknya Grup Band lain, terutama permasalahan ego dan ide, namun mereka tetap utuh karena mereka saudara kandung. Sambil Tersenyum Rah Tut mengatakan “kita tidak bisa lepas bersaudara.”
Keberhasilan XXX tentunya tidak lepas dari kegigihan mereka, sifat ngayah yang sangat kental, dan keterbukaan (menyama-braya, gotong-royong), dan dilandasi filsafat berkarya yang jelas. Mereka merumuskannya sebagai berikut: “Identitas itu tidak pernah tetap, tidak utuh, tidak satu tetapi terus digodok dalam proses. Artinya, bahwa identitas itu akan terus berubah, terus dikonstruksi dalam proses. Mungkin kita tidak perlu pesimis mendengar jawaban bahwa lagu Bali tidak memiliki identitas karena identitasnya bergulir terus dalam proses. Berbagai jenis aliran musik sudah dapat kita dengarkan saat ini. Bukan hambatan untuk mencoba sesuatu yang berbeda dalam berkarya khususnya musik. “Bebas”, kata yang paling cocok untuk mencoba hal tersebut. Kebebasan untuk menghasilkan yang berbeda. Tanpa harus dikait-kaitkan dengan merusak dan melupakan budaya kita, selama tetap dalam jalur berkesenian. Bereksperimen mencoba terobosan baru. Itulah seni. Baik itu dalam seni rupa, seni tari, seni musik dsb. Penuh dengan proses-proses pencarian. Demikian pula dalam pencarian identitas lagu Bali itu sendiri. No name, no identity but freedom. Biarkan berjalan mengikuti waktu dan jaman.”
XXX tetap pada misinya untuk terus berkarya mencipta lagu dan menelorkan album, mengangkat lebih banyak lagi unsur-unsur budaya Bali, sejarah, cerita rakyat dari berbagai pelosok. Sebagai seniman mereka punya tanggung jawab untuk terus mencipta. Sadar akan hal itu, mereka mulai mengurangi frekwensi manggung yang di tahun 2006-2008 bisa sampai 10 kali sebulan. Mereka sudah pentas di semua Kabupaten/Kota di Bali termasuk di Soundrenaline GWK, Main Stage, di Mataram-Lombok, dan Jakarta. Rahtut juga harus rela meninggalkan seni rupa dan fokus bereksplorasi dan berekspresi di seni musik.
“BERIKAN YANG TERBAIK DENGAN SEMANGAT NGAYAH”
Ungkapan kreatifitas tanpa henti bukan hanya sekedar slogan bagi Band mebasa Bali XXX (triple-X)

Komentar